h1

Keindahan dalam Makna, atau Makna dalam Keindahan?

July 11, 2009

percakapan dewa dan kuncen di grup lubuk makna, di facebook.

join grup “lubuk makna” yah para FB’er.

dewa :
Berpuisi adalah kebutuhan primer seorang sastrawan sejati, baik dia novelis, spesialis cerpen, bahkan jurnalis sekalipun. Puisi adalah bentuk dasar dari semua karya sastra, penyusun fundamental dari semua cerita. Hal ini karena puisi memiliki struktur dasar dan efisiensi yang sejalan dengan sisi aestetiknya.

Bagaimanapun, dalam bentuk utuhnya, puisi berbeda dari cerita. Puisi adalah sajak “dingin”, tak seperti halnya cerita yang merupakan sajak “hangat”. Melalui puisi, pengarangnya melemparkan MAKNA dari jauh. Sedangkan melalui cerita, pengarangnya menyampaikan MAKNA dengan cara yang hangat. Hal ini jelas ketika aspek bahasa dari kedua bentuk sastra ini diperbandingkan. Tidak seperti cerita, yang mengeksploitasi kata-kata yang umum digunakan sehari-hari untuk penyampaian MAKNA, puisi menggunakan pemilihan kata yang cenderung tak biasa, unik, dan sejalan dengan aspek aestetika struktural.

Puisi cenderung menampilkan gagasan mengenai karakter pengarangnya secara kurang terbuka. Menempatkan MAKNA dalam kotak harta yang tertimbun tumpukan kata.

Ada setidaknya dua alasan spesial disusunnya sebuah puisi :
1. KEINDAHAN
2. MAKNA

terdapat perbedaan selera, atau kecenderungan seseorang untuk menyukai sebuah puisi. KEINDAHAN DALAM MAKNA, ataukah MAKNA DALAM KEINDAHAN?

Bagi penggemar puisi yang menonjolkan KEINDAHAN DALAM MAKNA, sebuah puisi harus menjadi seekspositif mungkin. Efisiensi dan penekanan berlebihan pada aestetika gramatikal justru mengurangi kualitas puisi. Puisi semacam ini bahkan cenderung naratif, dan artinya, lebih mirip sebuah karya sastra “hangat”, yang memang sesuai untuk sosialisasi pada kalangan awam.

Sebaliknya, pencinta puisi beratribut MAKNA DALAM KEINDAHAN berpendapat bahwa selayaknya sebuah puisi adalah karya seni. Secara gramatikal, puisi harus efisien. Begitupun secara rima harus setidaknya memiliki pola definit (bukan monoton). Dengan kata lain, MAKNA DALAM KEINDAHAN menyimbolkan kedalaman makna dalam seefisien mungkin penyampaian. Bagaimanapun, ada kesan eksklusif pada puisi macam ini.

Nah, puisi macam mana yang Anda sukai? :)


kuncen :

sedang saya memilih keduanya mewakili sebagian, sebagian dari yang satu berada di sebagian yang lain, begitu juga sebagian dari yang lain itu masuk kepada sebgian yg satu. dan membentuk lingkaran setan yang disebut dengan “puisi firdaus”

dewa :
@kuncen daus : wah, konsepmu seperti lingkaran tak berujung ya? bisa berikan sampelnya disini? agar seluruh dunia mengerti :) jgn lupa beri kredit utk km sendiri.

kuncen :
contoh pakai lingkaran kata2 saja,.

jika konsep pertama : KEINDAHAN DALAM MAKNA
lebih bersifat naratif , ini biasanya para penulis bersifat egois,. memaksakan akan gaya suatu sastra dengan pembuatan yang HARUS memiliki makna. dan makna tersebut HARUS mudah diketahui oleh kalangan awam. contohnya; puisi dalam lagu. jenis ini tak memiliki variasi yang sangat banyak sehingga kita bisa simpulkan, hampir seluruh lagu yg beredar memiliki taraf pengembangan puitikal yang dasar dan sejajar. SAMA semua.

jika konsep kedua : MAKNA DALAM KEINDAHAN
ini lebih kepada hemat kata, pertunjukan analisis suatu kejadian secara sangat abstrak dan benar2 mengunduh kata dasar seutuhnya. seperti puisi Pak Sapardi Djoko Damono contohnya; Kalian, pun.
puisi itu habis disitu saja,.dan penyaratan maknanya disimpulkan dengan imaji yang luas di daerah itu saja.

nah,. implikasi dari kedua komposisi tersebut,. saya bukannya menciptakan perpaduan, tapi malah menyiapkan oposisi dari keduanya sehingga hasil jenis puisi yang tercipta itu malahan mewakili secara utuh dari jarak keduanya.

seperti kata orang gila,
menyentuh air lewat cermin pun bisa jadi ikut basah.

dewa :
wah daus mengambil politik jalan tengah… tapi bukankah tidak jadi optimal dan jadi tidak maksimal?

ngomong-ngomong daus memakai ikon orang gila dalam “merk dagang” dan muatan puisinya.. terasa sarkastik sekaligus kritis realis, tapi jika dirasa sedikit lebih dalam maka akan terjadi pengurangan ekspektasi sang pembaca, terlebih frase orang gila itu diletakkan di awal. Yang terjadi adalah pelabelan terlalu awal (dan terlalu kuat),, sehingga sisa sajaknya seakan menjadi penjelas saja.

hmm tapi kalo sajaknya sependek itu daus condong ke penganut MAKNA DALAM KEINDAHAN deh :)

kuncen :
tapi tidak minimal pula.

wkwk,. tidak juga,.
maksud gila bagi diriku ialah keadaan diri yang tidak berada pada diri sendiri,. jadi tidak menganut paham apapun,. dan aku yang menciptakan puisi, atau bahkan aku yg menulis, itu berbeda dengan aku yg biasa,. jadinya setiap puisi ku itu bisa disebut, puisi orang gila. bukan puisiku sepenuhnya. dan bukan puisi yang mengikuti jalur tertentu,. yah menciptakan jalur sendiri yang memang berada di daerah berbahaya, mudah terjatuh, tapi bisa dieksplorasi lebih luas lagi,. :)


dewa :

perkembangan zaman sepertinya menunjukkan kecenderungan penguatan dominasi puisi beratribut MAKNA DALAM KEINDAHAN di pasar perpuisian tanah air, hal ini ditandakan oleh mulai bermunculan pujangga-pujangga berlabel KONTEMPORER, cikal bakal ekstrim MAKNA DALAM KEINDAHAN.

Meski begitu, publik penikmat sastra tetaplah komunitas yang liat, ide-ide radikal tidak selalu terlihat lebih menarik jika dibandingkan dengan “sekedar” daur ulang ide-ide lama nan konvensional. Ruang bereksperimen cenderung disempitkan kebutuhan primer pembaca lokal kita yang memosisikan BACAAN sebagai HIBURAN MURNI yang muatan maksimalnya adalah SODORAN dari si pengarang, yang bisa direguk kapan saja bahkan sambil tidur-tiduran sekalipun.

Masih sangat jarang terdapat SASTRA TEKA-TEKI, yaitu sastra yang totalis simbolik dan bahkan dalam bahasa simbol itupun masih harus “diterjemahkan” lagi. Bukankah yang seperti ini menarik? :)


kuncen :

jujur saja,. kalau hendak mengikuti minat baca para pembaca saat ini, takkan pernah bisa dirimu mencapai kejayaan dalam menulis. karna bahkan tulisanmu nantinya lebih difokuskan kepada selera pembaca. bukankah itu munafik?

nah,. jadilah materi makna dalam keindahan yang terang-terangan,. namun tidak dibatasi oleh kontemporerisasi suatu karya itu sendiri. paling mudah jika kita sebut nama saja. Andrea Hirata. dia tidak berinteraksi dengan pembaca, namun dialah yang menciptakan dunia bagi para pembaca. contoh paling mudah lagi, untuk oposisinya,. band-band pencipta lagu yg sekarang-sekarang. kalian bisa lihat lirik2 mereka yg kebanyakan gampangan ,. itu karena terlalu mengejar selera masyarakat. dan lebih bodohnya lagi, semakin memanjakan masyarakat sastra dengan keadaan yang gampang. sehingga akan sulit karya2 pelik bermunculan jika itu bukan dari pengarang yang sangat tangguh atau sangat terkenal. seperti banyak kasus-kasus penulis puisi yang malah mati karna puisi mereka itu sendiri.

nah, sastra teka-teki. itu ibarat pedang yang tidak memiliki ganggang. sedang penulis, matanya harus ditutup. ada yang berani mencoba?

dewa :
naah tapi menutup mata sama sekali pada analisis pasar adalah tindakan kurang bijak. Memang, idealnya seorang seniman MEMBUAT pasarnya sendiri, (kata MENCIPTAKAN dihindari disini, karena unsur atributifnya terlalu superior). Seorang seniman, dan dalam kasus ini sastrawan, harus mampu menjadi spesial dan menancapkan pengaruhnya secara fundamental, maka untuk ini diperlukan pengetahuan yang baik mengenai topologi pasar yang sedang berlaku.

Didunia ini tidak ada hal yang benar-benar baru, seorisinal apapun sebuah karya pastilah mempunyai unsur-unsur khas yang ada dalam karya orang-orang pendahulunya. Jika bukan plagiat maka alibinya adalah terinspirasi. Bagaimanapun, ini tidak berarti bahwa ide segar adalah daur ulang semata. Ide segar adalah daur ulang, reformulasi, penyatuan, dan diferensiasi ide lama. Hal ini benar karena terdapat setidaknya dua macam IDE segar :
1. IDE segar yang menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dan tidak terselesaikan oleh ide-ide lama. Biasanya IDE macam ini berasal dari penyatuan potongan-potongan krusial ide-ide lama, lalu terdiferensiasi (mengalami perkembangan uniknya sendiri) menjadi ide dengan aspek-aspek baru yang tak dimiliki ide lama.
2. IDE segar yang menimbulkan pertanyaan baru, dan mendorong rasa ingin tahu serta eksplorasi ide-ide segar lain yang mungkin. Ide macam ini adalah konsepsi baru, wadah baru yang belum pernah disentuh siapapun sebelumnya : objek baru.

Masyarakat hanya tertarik pada sebuah ide jika ide itu signifikan dan menjadi model terbaik bagi permasalahan mereka. Ini natural, puisi-puisi bertema tertentu akan lebih disukai oleh komunitas yang akrab dengan tema tersebut. Dalam kasus ini, yang dinantikan oleh komunitas tersebut adalah IDE SEGAR macam pertama, sebagaimana dibahas disini.

Meski begitu, tidak mustahil bagi IDE SEGAR macam kedua untuk mendapat tempat di hati pembacanya. Hanya saja, pada awal kelahirannya IDE semacam itu hanya akan menjadi konsumsi terbatas. Mungkin di kalangan akademisi saja. Begitulah ide tersebut menjadi barang asing bagi keawaman masyarakat, hingga muncul pihak-pihak yang menunjukkan relevansi, dan signifikansi, dari IDE tersebut DIBANDINGKAN ide-ide lama.

Dengan kata lain, dalam kasus apapun, untuk menembus pasar diperlukan “cengkeraman” yang kuat. Mungkin berupa popularitas, atau KONSISTENSI BERKARYA. Percaya atau tidak, seniman yang pada awal kemunculannya mendapatkan cap buruk semacam kampungan, norak, aneh, tidak relevan, dsb, tetapi karena konsistensi berkarya maka lambat laun IDE-IDEnya mendapat tempat di hati komunitas yang dulu membencinya. Hal ini mungkin karena yang dia/mereka lakukan adalah ASIMILASI ide, penyuntikan IDE milik mereka sendiri ke pikiran masyarakat secara diam-diam. Biasanya seniman seperti itu akan terima saja, oke-oke saja dicap aneh dan dijadikan BAHAN TERTAWAAN. Ketika masyarakat MENERTAWAKAN, maka masyarakat sebenarnya sedang MENGINGAT dan MENJADIKAN BERKESAN ide-ide konyol itu. Mungkin karena faktor kasihan, atau bahkan selera masyarakat berubah, seniman tadi akan kemudian mendapatkan tempat dalam masyarakat, meski terbatas. Contoh berlimpah dalam konteks seni bermusik, khususnya di tanah air kita yang tercinta ini.

Jadi, bisa diteorikan bahwa adalah tidak mungkin untuk membuat pasar yang benar-benar baru : siapa yang akan dengan sukarela berada disana tanpa tahu keunggulan/kebaikan apa yang ditawarkan? Yang paling mungkin adalah REFORMASI pasar. Pasar adalah bentuk transenden yang sulit dilacak awal muaranya. Sebagaimana matematika, yang berawal dari konsep angka, pengembangan/IDE-IDE baru yang mungkin didalamnya haruslah berkaitan dengan konsep angka tersebut, yang kemudian digeneralisasi menjadi konsep SIMBOL, yang tentunya memiliki keluasan aplikasi berkali-kali lipat dibanding hanya menggunakan konsep dasarnya saja.

Bagaimanapun, secara praktikal, kadang ditemui perilaku-perilaku KAOTIK (chaotic) dalam dinamika minat pasar. Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar kaotik, melainkan pengetahuan kitalah yang belum mencukupi untuk memprediksi perilaku kaotik itu. Disinilah PENGEMBANGAN menempati posisi relatif aman, setidaknya akan diminati kalangan akademisi. Sedangkan PENEMUAN berada dalam posisi paling riskan : bisa kehilangan peminat sama sekali, dirampok dan lalu direformulasi, atau justru berhasil menempati posisi paling baik dan bahkan bisa menyingkirkan pemain-pemain lama dari posisi amannya.

PENGEMBANGAN, dalam hal ini nyaris identik dengan IDE segar macam pertama (sebagaimana dibahas disini), bisa ditinjau sebagai cikal bakal atribut MAKNA DALAM KEINDAHAN yang dibahas dalam topik ini. Pengembangan sangat identik dengan efisiensi.
Sedangkan semangat PENEMUAN, representasi IDE segar macam kedua, bisa ditinjau sebagai cikal bakal atribut dual dari atribut diatas, yaitu KEINDAHAN DALAM MAKNA, karena sebuah penemuan adalah TIDAK SENGAJA. Penjabaran panjang lebar, yaitu gaya khas dari atribut KEINDAHAN DALAM MAKNA, adalah sarana ampuh untuk menemukan bagian-bagian dari ide-ide yang biasanya terlewatkan.

@daus : gapapa OOT sejenak, asalkan pada akhirnya kembali ke topik.
Wah, sepertinya sastra teka-teki adalah bentuk sastra masa depan. Calon potensial perebut pasar.

kuncen :
nah,. melihat dari dewa yang menjelaskan pangsa pasar dan tindak tanduk penulis diatas, saya jadi ingin memberikan satu sample juga.

berdasarkan analisis pelaku yang anda sampaikan, itu terjadi jika dalam kondisi si penulis berada dalam keadaan tidak terkenal, tercaci maki terlebih dahulu. nah, bagaimana dengan penulis yang di awal terkenal ?? nampaknya pergerakan pasar yang berubah pada setiap periode waktu lah yang harus kita titik beratkan jika ingin menganalisa minat pasar terhadap jenis suatu tulisan.

Penulis lama tersebut mengabdi kepada satu IDE yang sudah didefinisikan oleh dewa fendy. dia berhasil. terkenal. disanjung. dipuja. dijadikan ikon oleh masyarakat pecinta sastra. dia mempertahankan IDE tersebut. berada pada jalur yang benar memang, tapi tak sadar bahwa selera pasar lama kemudian menjadi pudar, berpendar, berpencar, dan menyatu di dunia sastra lain. pada masa diferensiasi ini dia tak sanggup bertahan. hancur. dan kemudian tak sanggup berkarya lagi. hanya memanfaat ketenaran untuk mengomentari karya orang. lihatlah ratusan buku baru sekarang, banyak komentar dari penulis lama. itu salah satu contoh.

nah, tidak semua sih penulis lama yang awalnya terkenal berakhir di meja judi seperti itu. ada juga yang masih eksis, itu karna mereka mahadewa. yang mengerti pergantian jalur pasar. dan merombak kembali IDE segar menjadi IDE segar versi baru.

yang saya sayangkan disini, mengapa kita harus merombak IDE setiap periode waktu pergantian pasar? ini mau tidak mau menampilkan identitas konsistensi yang terjungkal. adakah IDE yang benar2 bisa bertahan. atau IDE yang memiliki fleksibelitas tinggi dalam menerka kemauan pasar?
saya tak pernah melihat sampai sekarang. sampai saat ini. siapapun di dunia bahkan tidak pernah menciptakannya.

nah,. untuk itu,. karna semuanya berepresentasi dari dua jenis alur, MAKNA DALAM KEINDAHAN dan KEINDAHAN DALAM MAKNA, saya ingin mengurai satu lubang baru,. bukan didalam keduanya,. tapi diluar keduanya. untuk mengurung mereka,. dan membuat mereka jadi satu kesatuan. toh jika saya gagal, tak akan ketahuan oleh pencipta sastra manapun, karna saya menggali lubang dari luar etiket penulisan.

@ fendy : calon potensial perebutan pasar memang, tapi juga calon potensial ditertawakan,. wkwk,. tinggal pengemasnya yang harus berani.

@ yang lain : berani coba?

Nah,. itulah perbincangan singkat kami,..
saya sebagai kuncen.

firdaus
tempatgila.wordpress.com

3 comments

  1. ni mu tiru2 buku belajar nulis puisi itu ya?


  2. well, i don’t really understand though! aww )’:


  3. salam kenal.
    aku bikin puisi juga di blog ku



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: