h1

Putih Abu-abu

October 7, 2008

Putih Abu-abu

Pertama menjejakkan kaki dalam mangsa, tersipu keanggunan matahari ditengah-tengah mawar yang ada. Aku sempat berjanji kepada sang lembut, hari ini hanya untuk matahari. Segala berlalu, pagi itu pemilihan raja-ratu. Dengan angkuhnya aku berdiri mencalonkan diri, padahal selebihnya aku hanya dimangsa sepi. Tibalah hari untukku punyai mimpi, merasakan diri paling berani dengan persiapan yang tak sempat jadi, aku berlari ke medan perang sebagai pengamat sejati. Tugasku disana hanya mengamati. Aku pulang kenang, disambut ribuan pertanyaan ada apa di ujung sana gerangan. Aku hanya bisa menjawab semua pahlawan kita tlah mati. Apa balas? Aku dianggap pengkhianat, dianggap berontak oleh mereka yang tak berotak. Menimbang-nimbang nilai agarku bisa terbengkalai. Ingat semua! Aku adalah lelaki. Hari ini aku mati, tapi besok aku akan bangkit lagi. Bukan sebagai pecundang yang kemudian mati terus lenyap dari bumi. Aku adalah endapan permata yang selalu kututupi resapan kilaunya.

Aku putih abu-abu tujuh belas tahun membangun tulang belulangku agar dapat kumasukkan semua kedalam tanah yang hanya berpetak sepanjang panah. Untuk mengubur kata yang telah bisu agarku bisa mencari istri baru, sang kamus yang membawa seribu kata palsu. Biarpun palsu, hadirnya sudah cukup untuk mengobati lukaku karna keangkuhanku. Hingga hari ini kamus telah mati pergi aku bisa berdiri sendiri. Menitis puisi didalam puisi. Didalamnyapun ku remukkan puisi.

Jingga dua

Warna dunia memang berbeda…

Tapi aku harus tetap menggores jingga…

Karna ku yakin yang ku dapat bukan berita duka…

Dibaliknya masih ada rahasia…

Telah lelah aku berpuisi. Hari ini aku hanya akan menghabiskan waktu dengan penghabisan darahku. Untuk memulai pelajaran tentang kesediaan, kekuatan hati, dan cara-cara indah menyalahi takdir. Sisa setahun aku mengabdi, sebagai pengamat sejati. Sisakan waktuku untuk kembali bermimpi karna suatu saat nanti akulah yang akan membawakan segenggam besi untuk dipamerkan ke seisi bumi bahwa dunia kita ini masih ditinggali oleh seorang lelaki.

One comment

  1. wooow. sumpah. menrut ku ini puisi KEREN BANGET!!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: